Rumah Fosil Dua Dunia Kebumen

Batuan fosil
Batuan fosil adalah batuan yang terbentuk dari proses pengerasan bagian dari jasad mahluk hidup baik darat maupun lautan selama ribuan bahkan jutaan tahun bersamaan dengan evolusi bumi. Mengerasnya jasad mahluk hidup menjadi batuan bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor salah satunya adalah efek dari bercampurnya endapan lumpur.

Batuan fosil memiliki kekerasan layaknya batuan beku, mayoritas batuan ini memiliki tingkat kekerasan di atas batuan sedimen/endapan. Semakin keras batuan fosil, menunjukkan bahwa kurun waktu pembentukannya semakin lama/tua.

Karangsambung Kebumen (termasuk Sadang dan Karanggayam) merupakan pusat subduksi (tumbukan)lempeng bumi/benua dan lempeng samudera yang mengakibatkan naiknya dasar laut dalam yang pada awalnya merupakan gunung api purba raksasa bawah laut, dan sungai (Luk Ula) bawah laut menjadi dataran. Peristiwa geologi yang terjadi pada masa pratersier ini tentunya menyebabkan terangkatnya gunung api, sungai dan ekosistem laut purba menjadi daratan kabupaten Kebumen (Karangsambung, Sadang, Karanggayam dan lain – lain).

Pasca masa kenaikan dasar laut dalam menjadi daratan ini terjadilah proses evolusi bumi di Kebumen yang selama jutaan tahun akhirnya mengakibatkan terbentuknya batuan fosil yang berasal dari ekosistem laut ( terumbu karang, ikan, ganggang dan lain – lain) serta fosil yang terbentuk dari ekosistem darat (berbagai macam tanaman keras, binatang dan lain – lain) setelah kebumen naik sebagai daratan. Melihat sejarah geologis dan fakta yang ada, sangatlah layak jika Kebumen disebut rumah fosil dua dunia.

 

Rumah Fosil Dua Dunia.
Berikut ini berbagai macam fosil biota laut yang telah berhasil ditemukan di Kebumen bukti bahwa Karangsambung Kebumen dahulu kala merupakan dasar laut dalam sebelum terangkat dan berevolusi sebagai daratan pada masa pratersier :

  1. Fosil Ganggang Laut, Periode ganggang laut digolongkan pada masa Arkeozoikum(Masa Kehidupan Purba) 4.600.000.000 – 2.500.000.000 tahun yang lalu. Masa ini dibagi menjadi ), merupakan masa pemunculan kehidupan paling primitif (purba) yang bermula di dalam samudera berupa mikroorganisme dari jenis bakteri dan ganggang.
  2. Fosil Cacing Terumbu, Periode cacing terumbu digolongkan pada masa Proterozoikum (Masa Kehidupan Awal) 2.500.000.000 – 540.000.000 tahun yang lalu. Masa Proterozoikum disebut juga masa Algonkian yakni masa perkembangan kehidupan dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak (Eukaryotes dan Prokaryotes), seiring dengan perkembangan hidrosfer dan atmosfer. Menjelang akhir masa ini, organisme yang lebih kompleks adalah sejenis invertebrata (tidak bertulang belakang) bertubuh lunak seperti ubur – ubur, cacing dan koral.
  3. Fosil Lintah Laut (invertebrata), Periode lintah laut juga digolongkan pada masa Proterozoikum (Masa Kehidupan Awal) 2.500.000.000 – 540.000.000 tahun yang lalu.
  4. Fosil Siput Laut, Periode siput laut digolongkan pada masa Paleozoikum (Masa Kehidupan Tua 540.000.000 – 245.000.000) : zaman Kambrium (540.000.000 – 510.000.000 tahun yang lalu). Pada zaman ini banyak bermunculan kelompok hewan invertebrata yang mempunyai kerangka luar dan bercangkang sebagai pelindung. Pada masa ini berkembang pesat biota laut jenis Alga, Cacing, Sepon, Moluska, Ekinodermata, Brakiopoda dan Antropoda.
  5. Fosil Aneka Kerang Laut, Periode kerang laut sama dengan siput laut digolongkan pada masa Paleozoikum (Masa Kehidupan Tua 540.000.000 – 245.000.000) : zaman Kambrium (540.000.000 – 510.000.000 tahun yang lalu).

 

Fosil Biota darat

Keanekaragaman fosil biota darat yang ditemukan di Kebumen membuktikan bahwa telah terjadi evolusi bumi yang begitu menakjubkan dari dasar samudera menjadi daratan pegunungan dan hutan pada masa pratersier. Sebuah tempat yang sangat langka di belahan bumi manapun. Sangat pantas jika para geolog dunia menjuluki Karangsambung Kebumen sebagai lapangan geologi terlengkap di dunia.

  1. Fosil Aneka Tanaman Keras Purba, Tanaman keras masuk dalam digolongkan pada masa Paleozoikum (Masa Kehidupan Tua 540.000.000 – 245.000.000) : zaman Karbon (362.000.000 – 290.000.000 tahun yang lalu). Di zaman ini berkembang amfibi dan tumbuhan hutan. Benua menyatu membentuk satu daratan disebut Pangea. Berbagai macam tanaman keras seperti Kelapa, Sanakeling, Jati, Asem, Bambu, dan lain – lain masuk dalam masa ini
  2. Fosil Buah Kelapa, (keterangan seperti Fosil Aneka Tanaman Keras Purba di atas)
  3. Fosil Sanakeling, (keterangan seperti Fosil Aneka Tanaman Keras Purba di atas
  4. Fosil Pohon Paku, (keterangan seperti Fosil Aneka Tanaman Keras Purba di atas)
  5. Fosil Tulang Reptil Purba, Fosil Reptil Raksasa Purba yang ditemukan di Kedunggong Sadang dikategorikan dalam masa Mesozoikum (Masa Kehidupan Tengah: 245.000.000 – 65.000.000 tahun yang lalu). Masa ini adalah masa berkembangnya hewan reptilia, khususnya dinosaurus serta berkembangnya amonit dan tumbuhan berbiji purba. Fosil temuan ini belum bisa ditentukan apakah berasal dari biota laut ataukah biota darat dikarenakan adanya evolusi bumi di Karangsambung Kebumen dari dasar lautan dalam menjadi daratan pegunungan.
  6. Fosil Tulang Raksasa Biota Laut, Fosil temuan ini bisa dikategorikan sebagai fosil biota laut, dikarenakan adanya fosil kerang – kerangan yang menempel pada fosil tulang ini. Dimungkinkan fosil tulang ini dahulunya merupakan sisa binatang laut raksasa yang mati dan dilekati kerang – kerangan dan dijadikan sebagai tempat tinggalnya.
  7. Fosil Gigi Gajah Purba, Fosil ini ditemukan di desa Banjarwinangun kecamatan Petanahan ada kedalaman 5 meter. Hasil penelitian tim arkeologi Bandung yang diketuai oleh Dr. Erick Setiyabudi (Paleontologi Vertebrata) menyimpulkan bahwa fosil Gigi Gajah Banjarwinangun, Petanahan, Kebumen memiliki kesamaan dengan fosil gigi gajah yang ditemukan di daerah Kalimantan. Periode Gajah termasuk dalam masa Kenozoikum (Masa Kehidupan Baru) zaman Tersier; Kalaoligosen.