Proses Pembuatan Akik Batuan Luk Ula


Pembuatan Akik Batu Luk Ula melalui beberapa tahap yaitu:

  1. Pencarian Bahan Batuan, Pencarian batuan bahan tidak bisa dipastikan, artinya; saat mencari batuan bahan, kita tidak bisa memastikan akan mendapatkan batuan bahan jenis tertentu. Semua bergantung pada keberuntungan dan julung (bahasa jawa yang berarti sesuai dengan grade jiwa dan spiritual sang pencari. Maka terkadang dalam mencari batuan bahan, para pencari batu melakukan tirakat atau puasa yang bertujuan agar bersihnya raga, kejernihan batin dan ruhani akan menciptakan hukum ketertarikan dan kesepadanan antara pencari batuan sebagai mikrokosmos dengan batuan bahan sebagai makrokosmos. Hal ini dikarenakan Batu Mulia Luk Ula sangat sulit dideteksi. Kebanyakan terbungkus kulit dengan warna yang tidak sama dengan dalamnya. Banyak yang menemukan batuan bahan dengan corak dan warna kulit yang indah, akan tetapi setelah dipecah dalamnya tidak jenih dan merupakan batuan biasa. Batuan bahan yang bagus dan mengandung daya induksi makrokosmos yang kuat kebanyakan terbungkus oleh kulit yang biasa dan pekat sehingga dalam mencari bahan di lokasi terkadang diperlukan palu untuk memecah batuan bahan temuan. Apakah benar – benar bagus dan tergolong batu mulia, atau hanya merupakan batu biasa? Dalam satu bulan pencarian terkadang bisa terjadi si pencari batuan tidak mendapatkan batuan bahan Luk Ula.
  2. Pembentukan, Proses pembentukan adalah proses dibentuknya batuan bahan menjadi batuan akik sesuai dengan keinginan. Dimulai dari pengamplasan kasar, sedang dan halus hingga batuan terbentuk menjadi akik yang diinginkan.
  3. Penyanglingan, Penyanglingan adalah proses finishing berupa pengkilapan batuan yang sebelumnya tidak hidup dan memantulkan cahaya dikarenakan proses pengamplasan. Penyanglingan tradisional dilakukan dengan menggosok batuan menggunakan klaras (daun pisang yang telah kering) atau pring wulung (bambu wulung). Saat ini dikenal penyanglingan secara praktis yakni dengan menggosoknya menggunakan serbuk khusus buatan. Bagaimanapun, agar daya induksi batuan maksimal, gunakan media penyanglingan alami yakni klaras ataupun pring wulung.
  4. Pengembanan, Pengembanan adalah tahap pemasangan batu yang telah mengkilap ditempatnya. Yang dimaksud dengan tempat adalah cincin, kalung ataupun yang lain. Artinya, batu dipasang sebagai mata cincin, kalung ataupun asesoris lain. Bahan emban bermacam – macam mulai dari monel, kuningan, perak, dan emas. Batuan mulia dengan daya induksi yang baik akan sangat maksimal daya induksi dan pancarnya jika dipasang dalam emban berbahan mulia juga. emban disesuaikan dengan grade batuan yang dalam ilmu alam Jawa dikenal dengan adanya tingkatan grade:
  • Wahyu
  • Pulung
  • Handaru

Masing – masing grade ini memiliki fungsi dan daya berbeda meskipun dalam batuan dengan jenis yang sama. Grade tersebut merupakan pecampuran saripati alam tertentu dari penyusun mineral unsur – unsur mulia seperti sesotya, emas, perak, timah, tembaga dan sebagainya. Perbedaan campuran materi penyusun inilah yang kemudian menimbulkan grade dan daya yang berbeda sehingga dikenal adanya tingkatan derajat kemuliaan dari atas ke bawah yakni Wahyu, Pulung dan Handaru. Masih terdapat dua derajat di bawah Handaru, akan tetapi tidak dibahas di sini karena dua grade terbawah itu tersusun oleh saripati alam yang keras dan tidak baik untuk manusia. Itulah yang terkadang dalam masyarakat Jawa dikenal dengan istilah daya gatel, galak dan sebagainya, sehingga jika batuan berunsur daya tersebut dipakai ataupun berada di dalam rumah akan menimbulkan efek penyakit pada si pemakai atau pun keadaan yang tidak baik di dalam rumah, dimana sesungguhnya hal tersebut meupakan efek sinergi induksi makrokmosmos dalam batu dengan mikrokosmos dalam diri manusia yang kebetulan daya makrokosmosnya adalah daya 2 grade terbawah.